Endank Soekamti Garap Video Klip Slank ‘Anti Nuklir’

Oleh @pejred

FENOMENA nuklir ibarat pisau bermata dua. Sebagai sumber energi dengan kekuatan yang sangat besar, nuklir dapat digunakan sebagai sumber energi, ataupun senjata pemusnah. Setelah Pertama kali di buat percobaan oleh fisikawan Jerman Otto Hahn, Lise Meiner dan Fritz Strassman pada tahun 1938, energi nuklir ternyata bisa digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik, di Indonesia dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Energi nuklir sebagai pembangkit listrik digunakan pertama kali pada 20 Desember 1951 di Idaho, Amerika Serikat. Dari tahun ke tahun kapasitas energi dari reaktor nuklir mengalami perkembangan pesat. Pada 1980 tercatat 300 giga watt energi nuklir telah dihasilkan. Pada periode berikutnya hingga kini, kapasitas energi yang dihasilkan tidak terlalu meningkat pesat.

Pada akhir abad 20 bermunculan gerakan untuk menentang adanya program tenaga nuklir. Hal tersebut didasari oleh ketakutan akan adanya bahaya radiasi yang dihasilkannya. Sebagai senjata pemusnah massal,nuklir telah digunakan untuk menewaskan ratusan ribu manusia, atau bahkan lebih.

Pada perang dunia kedua, tepatnya pada tahun 1942 Enrico Fermi menemukan reaksi berantai dari nuklir yang menghasilkan energi tinggi dengan menggunakan bahan plutonium. Plutonium inilah yang digunakan sebagai bahan dasar bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki, Jepang. Pada perang saudara di Suriah belakangan ini, lebih dari 100.000 jiwa melayang, konon banyaknya jumlah tersebut dikarenakan penggunaan senjata nuklir.

Jika terus dibiarkan, penggunaan senjata nuklir akan berdampak parah pada kelangsungan hidup manusia. Untuk menyikapi fenomena ini, band rock papan atas Indonesia, Slank menciptakan lagu yang menyuarakan bahaya senjata nuklir. Lagu yang berjudul Anti Nuklir ini baru saja dibuat video klipnya dan segera dirilis.

Konsep video klip ini berbentuk film pendek, menceritakan tentang prediksi habisnya sumber energi pada suatu negara di tahun 2025 mendatang. Sebelumnya, pada 2013 ini, beberapa pemimpin negara mengadakan rapat. Mereka ingin memutuskan apakah akan menggunakan nuklir atau tidak.

Lokasi syuting terbagi dua, untuk kondisi tahun 2025, tempat yang dipilih adalah Lereng Merapi, Yogyakarta. Di sana digambarkan suatu negara yang sudah remuk, kering, dan tandus. Sedangkansettingtahun 2013 berlokasi di base camp Slank di Potlot, Jakarta.

Selain Slank, video klip ini juga melibatkan band Endank Soekamti dan disutradarai langsung oleh Erix Soekamti. Team dari Endank Soekamti sendiri mendapat peran sebagai masyarakat yang terkena radiasi nuklir pada tahun 2025 seperti apa yang telah diprediksikan. Pada video tersebut digambarkan bentuk masyarakat yang terkena virus sampai mengalami mutasi gen, kanker, dan penyakit-penyakit aneh lainnya. Saat itu pemerintah ingin menciptakan sebuah istana yang benar-benar bersih dari virus, sehingga mau tidak mau harus melakukan pembersihan termasuk membersihkan manusia-manusia yang sudah terinfeksi.

Awal kerja sama dengan Slank sebenarnya tidak ada unsur kesengajaan. Suatu ketika Erix mendapati dirinya di tag lewat media sosial dalam sebuahcampaignAnti Nuklir. Hal tersebut pun membuatnya tergerak untuk menawarkan pembuatan video klip di bawah naungan Euforia Audio Visual. Mengingat Indonesia sendiri di tahun lalu sudah pernah mengalami letusan nuklir yang mengendap di Gunung Muria, maka pembuatan video klip Anti Nuklir ini dibuat untuk masa depan kita juga, Ujar Erix.

Walaupun efektif, ternyata nuklir ini memang sangat berbahaya dan tidak sebanding dengan apa yang akan didapatkan nanti. Mengingat Fukushima sendiri dengan sistem yang sudah sangat benar masih bisa kebocoran. Menurut Erix, Indonesia tidak akan bisa benar, karena Lapindo saja belum beres juga.

Dari situ kita tergerak untuk melakukan demo bersama-sama. Karena demonya musisi hanya bisa bernyanyikok, Tambahnya.

Karena video klip ini melibatkan Slank, maka kesulitan pembuatan video klip ini harus menyesuaikan jadwal mereka. Kendala lainya adalah lokasi, karena klip ini dibuat dibawah kali Opak yang sekarang sudah ditutup oleh lava Merapi. Jadi harus menggunakan Jeep disitu untuk menempuh medan yang berpasir, ujar pria tambun itu.

Selain produksi kampanye anti nuklir ini, sekarang Euforia Audio Visual sedang mengerjakan Angka 8 The Movie sambungan dari beberapa episode video musik Endank Soekamti. Kini produksi tersebut sudah memasuki episode 6. Tidak hanya itu, bersama Euforia, ia juga mengerjakan layanan masyarakat yang semuanya sudah dalam proses.

Euforia sendiri tercetus karena Endank Soekamti membutuhkan sebuah divisi Audio Visual. Dimana Endank Soekamti memerlukan dokumentasi yang bagus, rapi, dan ter-management dengan baik. Selain itu, Endank Soekamti punya mimpi besar di dunia film.

Melalui Euforia Audio Visual sendiri Endank Soekamti banyak melahirkan film-film baru, mulai dari kebutuhan band yang akhirnya bisa melayani masyarakat juga, kata pria yang memasang gigi emas ini.

Erix sendiri berperan sebagaidirectoryang bertugas men-directsemua karya yang keluar dari Euforia Audio Visual. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Euforia sendiri sedang fokus mencetak sumber daya manusia. Karena harus regenerasi dan harus berkembang, jadi harus melatih beberapa teman yang suka dengan film dan punya mimpi yang sama untuk bergabung dan belajar, ujarnya.

Erix menemukan ketertarikan dalam bidang Audio Visual sejak dua tahun yang lalu. Saat itu Endank Soekamti membuat video klip pertamanya secara mandiri yang berjudul Long Live My Family.

Disitu banyak tantangan, banyak mimpi, dan banyak obsesi yang harus dikejar, jadi sembari berjalan harus dikejar terus agar semuanya tercapai dan ter-update, kata bapak satu anak ini.

Erix mempelajari semuanya hanya di YouTube dan sering mencoba praktek sampai sekarang. Selain itu, dia juga punya cita-cita ingin membangun sekolah bakat secara gratis. Sekolah itu tidak mengajarkan sesuatu yang murid tidak suka, jadi disitu murid memilih sekolah untuk mengembangkan bakatnya. Karena dengan orang yang melakukan apa yang disukai itu proses belajarnya akan tidak terasa, tegasnya.

Ke depan, Erix ingin membangun sekolah seperti itu, jadi melihat bakat teman dan di fasilitasi untuk mengembangkan sumber daya manusia. (*)

*Penulis adalah penikmat film, musik, dan seni rajah tubuh. Tinggal dan Bekerja di Yogyakarta

— @kinescopemagz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *