Kami Mengguncang Rumah Sendiri

Minggu, 12 Mei 2013 kami menjalankan misi kami berikutnya untuk menghibur Kamtis Family. Kali ini, medan perang kami adalah di Stadion Kridosono Yogyakarta. Konser kami dibuka oleh 2 band jagoan kami, The Festivalist dan Captain Jack.

Kami tiba di TKP pukul 20:30. Ini sebuah kebiasaan baru dari kru kami. Ya.. Mendadak hari ini mereka jadi rajin dan bersemangat. Awalnya kami juga heran kenapa mereka bisa sebegitu bersemangat? Setelah kami bertemu LO untuk acara ini, pertanyaan kami pun terjawab.

Menanggapi fenomena L.O. cantik ini, Dorry sempat berkomentar, L.O.nya special banget, istimewa.. Kalo bisa, gig-gig selanjutnya tetep konsisten. Sesuai di riders kami, L.O. harus cantik dan cerdas. Dan itu dikabulkan.. Mendadak para kru jadi rajin2 banget karena L.O.nya. Konser jam 10, tapi jam 8 udah pada di panggung.

L.O. Hari ini namanya mbak Sheila. Dia dulu pernah menjadi talent di film bikinan Erix. Sebuah kebetulan yang aneh, bertemu orang yang sama, dengan profesi yang berbeda. Tapi itulah hidup.. Hidup itu singkat, jangan sampai terasa membosankan karena dihabiskan di jalur yang sama terus-terusan.

Tepat jam 10 malam, kami memainkan lagu pertama, Mars Kamtis. Bisa ditebak, seluruh penonton ikut bernyanyi bersama tanpa perlu diberi aba-aba. Dilanjutkan dengan lagu Berkibar Tinggi, Badajidingadan.

Ada kurang lebih 10ribu penonton memadati Stadion Kridosono hingga ke parkiran dengan berbagai atribut yang membuat suasana konser semakin hidup. Bagi kami, Stadion Kridosono itu sudah kami anggap rumah Kamtis Family. Setiap kali kami konser di sana, selalu dan selalu full banget penontonnya.

Konser di Kridosono kemarin luar biasa ramenya, tapi nggak ada ribut sama sekali. Ironisnya, konser kami beda sama konser dangdut yang temponya ndut-ndutan, tapi kasus senggol bacok malah sering kejadian. Untuk itu, kemarin kami menghimbau Kamtis Family untuk tidak menggunakan motto Senggol Bacok, tapi pake motto Senggol Kocok. Iya.. Yang dikocok tangannya, bahasa inggrisnya shake-hand, alias salaman.

Kami sengaja memberikan edukasi kepada penonton sama seperti yang pernah kami tulis di SINI mengenai tata cara menonton konser ala Kamtis Family. Dan kami sangat berterima kasih karena Kamtis Family mau mendengarkan himbauan kami. Terbukti, konser kemarin benar-benar berjalan damai tanpa ada perkelahian.

Kami juga membawakan lagu-lagu dari album terbaru kami Angka 8, Cita-cita, Maling Kondang, dan tentunya lagu Angka 8 itu sendiri. Setelah memainkan lagu Angka 8, Erix mencoba untuk bertanya kepada penonton: Apa itu persahabatan menurut kalian? Para penonton memberi jawaban yang sangat variatif, namun positif. Bahkan, ada salah seorang polisi yang sedang berjaga di panggung juga kebagian pertanyaan yang sama dari Erix. Polisi itu menjawab, Persahabatan itu sak lawase! (persahabatan itu selamanya)

Menurut kami, Lagu Angka 8 itu ditulis pake hati. Harapan kami, lagu itu juga bisa masuk ke hati para pendengar. Angka 8 itu seperti lagu kebangsaan baru bagi Kamtis Family. So, kami berharap selain didengarkan, lagu ini juga bisa dimengerti, serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Malam itu, meskipun dengan sound system yang sederhana, tapi konser pecah sekali. Kami tetap bisa bermain dengan sangat lepas. Mungkin karena energy yang diberikan kamtis memang luar biasa. Sehingga kami juga memberikan energy balik yang luar biasa membakar. Ari sempat melakukan diving ke penonton dan meninggalkan tugasnya sebagai drummer.

Lebih kerennya lagi, penonton malam itu nggak cuma cowok-cowok, tapi juga ada banyak Kamtiswati yang ikut bergabung. Asik kan? Mau terus-terusan ada banyak penonton cewek? Tipsnya cuma satu! Ikutin konser dengan tertib dan damai, sehingga para cewek juga bakal ngerasa aman dan nyaman untuk bergabung dengan kalian.

Oke, sekian laporan kami untuk event kemarin. Kami sangat bangga dengan kebersamaan kalian semua.

Viva la Kamtis!

written by: @shitlicious

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *