Launching Album #Kolaborasoe – Album Kolaborasi Kreatifitas Dan Inovasi

NewsMusik – Bagaimanakah mendefinisikan suatu karya yang freshatau segar itu? Menghadirkan sesuatu yang baru yang fresh harus punya perbandingan yaitu sesuatu yang lama dan tidak baru. Berarti memakai (karya) yang lama dan tidak baru lagi. Ketika kita kolaborasikan, menjadi sesuatu (karya) baru karena sudah ada yang lama, ujar Erix mendefinisikan makna baru dalam sebuah karya, khususnya musik.

Hal tersebut disampaikan Erix berkaitan dengan album terbaru Endank Soekamti bertajuk Kolaborasoe yang menampilkan kolaborasi dengan beberapa band, kelompok vokal, pelaku komedi tunggal, serta tokoh animasi. Dimana dalam album yang berisi 14 lagu tersebut, hanya menyertakan tiga lagu baru.

Ada pun nama-nama kolaborator tersebut adalah SLANKGIGINAIFPongki BarataPure SaturdayDewa 19Didi Kempot,Es Nanas hingga CJR dan Cherrybelle. Terselip pula Kemal Palevi yang selama ini dikenal di ranah standup comedy. Serta satu tokoh animasi bernama Jarwo Syubidu.

Adalah sebuah impian bagi Endank Soekamti bisa berkolaborasi dengan nama-nama besar tersebut. Untuk itu Erix bersama Dorydan Ari juga sadar bahwa sebagai Endank Soekamti ada banyak juga band/musisi yang mempunyai mimpi untuk berkolaborasi dengan mereka.

Maka Endank Soekamti membuka kesempatan banyak band untuk mengirimkan demo kepada mereka untuk dipilih. Akhirnya setelah menyaring sekitar 400 band maka terpilihlah Tom Kill Jerry untuk mendapatkan kesempatan berkolaborasi.

Pernyataan Erix yang dikutip di awal tulisan ini adalah untuk menjawab mengapa memilih mereka ulang lagu-lagu lama milik kolaborator bukan membuat karya baru. Ya, Endank Soekamti lebih memilih untuk mengobrak-abrik lagu lama tersebut menjadi sesuatu yang baru.

Menarik juga melihat ada nama Cherrybelle dan CJR yang diajak kolaborasi. Erix mengatakan awalnya banyak yang meragukan niat mereka berkolaborasi dengan mereka yang bisa dikatakan berbeda kutub tersebut dari segi musik dan penggemar.

Ini seperti sesuatu yang gak mungkin terjadi menjadi mungkin. Pemaknanan kolaborasi kita lebih kepada perbedaan yang kita jadikan satu menjadi sesuatu yg baru. Bukan yang sama menjadi lebih besar. Jadi banyak yang surprise (dengan kolaborasi itu), ujar Erix.

Proses kolaborasi tersebut berlangsung dengan serba kebetulan. Tapi dalam kebetulan tersebut tidak dipungkiri oleh Erix bahwa setelah ditelusuri banyak manfaat yang mereka peroleh. Bukan hanya dalam urusan penjualan tapi dampaknya ternyata sangat luas sekali.

Salah satu dampaknya adalah Endank Soekamti dapat berbagi pasar dengan masing-masing penggemar dari kolaborator tersebut. Juga efektif untuk mendapatkan regenerasi penggemar.

Dulu lagu mereka (yang diajak berkolaborasi) tidak pernah didengerin Kamtis, sekarang malah didengerin bahkan dinyanyiin. Bisa sambil moshing lagi, kata Erix disertai tawanya.

Kini Endank Soekamti sudah tidak bernaung di label manapun. Mereka lebih memilih mengerjakannya melalui label sendiri, Euforia Records. Semua dilakukan sendiri dengan memaksimalkan prinsip do it yourself untuk mempertahankan eksistensi Endank Soekamti di belantika musik Indonesia.

Dory menambahkan apa yang mereka lakukan sekarang adalah pengembangan dari prinsip do it yourself. Dimana dengan kolaborasi tersebut, mereka menyebutnya sebagai do it together. Bahwa untuk maju diperlukan kerjasama dari berbagai pihak.

Selain nama-nama tersebut, masih ada pula Yacko dan Stevie Item yang diajak berkolaborasi. Mengapa nama mereka tidak dipajang pada deretan daftar lagu karena mereka tampil membawa nama sendiri bukan atas nama sebuah band.

Sebenarnya ada satu nama lagi yang menjadi pilihan pertama oleh Endank Soekamti untuk diajak bekerjasama. Nama tersebut adalah Sheila On 7. Alasannya karena mereka sama-sama berasal dari Yogyakarta. Namun akhirnya kolaborasi tersebut urung dilaksanakan karena susahnya birokrasi dengan label besar yang menaungi Sheila On 7.

Album Kolaborasoe ini dikemas dalam bentuk 5000 boxset limited edition. Hal ini meneruskan langkah yang mereka ambil ketika merilis Angka 8 yang laris manis penjualannya. Di dalamnya berisi CD album Kolaborasoe, DVD Kolabobarosoe Rockumentary, buku Aku Kamtis, sertifikat kepemilikan, t-shirt, cincin/akik dengan ukiran Soekamti, serta nama dan nomor seri pembelinya. Dijual dengan harga Rp 300.000.

Kemudian ada paket dengan harga Rp 50.000 yang bisa mendapatkan CD serta buku. Serta bentuk ketiga dengan hanya membeli merchandise asli Endank Soekamti akan mendapatkan voucher dengan kode untuk mengunduh gratis album tersebut.

Menariknya, Endank Soekamti mengedarkan album tersebut tidak melalui distribusi. Karena mereka merasa selama ini pihak distributor banyak melakukan penyunatan pendapatan. Untuk itulah mereka melibatkan komunitas dengan menyebutnya sebagai Agen Kolaborasoe.

Apa yang dilakukan oleh oleh Endank Soekamti ini memang asu tenan kreatipe, dab!!! (Yose R)

http://newsmusik.co/news/index.php/2014-04-19-17-09-39/2014-04-19-17-12-26/item/1699-endank-soekamti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *