Media Tour #Kolaborasoe Eps. 2 : Basahnya Hujan, Hangatnya Sambutan

Setelah sebelumnya sempat break untuk show di kota Solo, tanggal 19 Januari 2015, Endank Soekamti mulai jalan lagi untuk lanjut media tour #Kolaborasoe, dan yang menjadi kota tujuan pertama untuk sesi kedua ini adalah Surabaya.

Kali ini cuma Ari dan Dory yang ikut keliling untuk media tour, karena Erix harus meeting di Jogja, jadi kami pun membagi tugas, biar lancar semua. :p Kami sampai di Surabaya pagi hari, dan seperti biasanya, langsung check in ke.. pom bensin terdekat, untuk cuci-cuci muka dan dandan sedikit biar kelihatan mandi. Sudah (makin) ganteng dan wangi semua, kemudian kami langsung menuju ke radio pertama, yaitu adalah radio M FM dan melakukan interview secara taping, karena memang konsep radio ini adalah radio tanpa penyiar. 75% isi siarannya adalah lagu, yang diselingi iklan dan interview dari musisi-musisi. Unik juga.

Di radio M FM ini, begitu turun dari mobil, kami mendapatkan kejutan dari rombongan Kamtis, lengkap dengan membawa gitar akustik dan mereka menyanyikan lagu Long Live My Family. Kelihatannya rombongan ini berasal dari daerah sekitar lokasi radio, karena mereka sudah nongkrong di sana dari sebelum kami datang, lengkap dengan atribut Endank Soekamti, tapi lebih santai. Beda dengan rombongan Kamtis yang biasanya memang datang dari luar kota dan harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh.

Radio kedua di Surabaya adalah Istara FM, jumlah Kamtis yang datang lebih banyak lagi. Kami juga sempat bertemu dengan manager dari Blingsatan, dan dapet kenang-kenangan berupa album terbaru dari Blingsatan. Kejutan lainnya, tiba-tiba ada dua orang mbak-mbak kantoran yang menghampiri kami, satu diantaranya sedang hamil. Dan ternyata, mbak yang lagi hamil ini ngidamnya lucu juga, dia ngidam beli boxset dan ditandatangani. Katanya sih itu bukan keinginannya seindiri, melainkan keinginan si jabang bayi. Luar biasa, belum lahir aja udah jadi Kamtis. Ini bisa jadi rekor Kamtis termuda sejauh ini!

Radio berikutnya yang kami samperin di Surabaya adalah radio DJ FM, sampai di sana perut kami udah mulai keroncongan, maklum belum sempat makan dari kecil. Untungnya, di depan radio ini ada ganjelan perut berupa pentolan, tapi nggak tau juga ini pentolan dari band mana aja. *lho* Dan setelah beres di radio ketiga ini, akhirnya perut kami mendapatkan pelayanan yang lebih memuaskan, dari semangkok (atau lebih) sop buntut sapi yang gedenya kayak buntut gajah. Mungkin sop buntut ini masih menemukan jati dirinya, tapi yang penting wuenak!

Sudah kenyang, kami langsung menuju radio keempat yaitu EBS FM. Hujan yang mulai turun sejak kami asyik menyantap sop buntut, tampak semakin deras, dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda hingga kami tiba di EBS FM. Akibat hujan deras tadi, ternyata beberapa ruangan di gedung radio ini sudah tergenang banjir. Termasuk kamar mandi, yang menyebabkan kami terpaksa menahan hasrat untuk melegakan kandung kemih, alias pipis. Singkat cerita, kami pun akhirnya mulai interview, tapi setelah intervew berjalan kurang lebih 30 menit, penyiarnya mohon maaf dan menyampaikan bahwa siarannya harus udahan dulu karena cuaca buruk. Dikhawatirkan nanti ada sambaran petir ke pemancar yang pastinya membahayakan. Akhirnya, kami menghentikan siaran dan menunggu cuaca membaik sampai kurang lebih satu jam, sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang karena ternyata hujannya awet kayak kegantengan kami. Selama perjalanan dari radio EBS FM ke hotel, kami juga menyaksikan beberapa jalan protokol di Surabaya sudah tergenang air mulai semata kaki sampai setinggi lutut.

Esok harinya, tanggal 20 Januari 2015, rombongan media tour #Kolaborasoe melanjutkan perjalanan ke Mojokerto dan Jombang. Target blusukan kita yang pertama di Mojokerto adalah Radio Maja. Seperti sebelum-sebelumnya, sudah ada Kamtis yang menunggu kedatangan kami di radio tersebut. Di radio ini, kami dikagetkan olah seorang mas-mas misterius yang tidak kami ketahui identitasnya sampai pada saat artikel ini ditulis, yang tiba-tiba membuka pintu mobil tanpa tedeng aling-aling dan alasan yang jelas, waktu kami lagi asyik nunggu waktu on air. Mari berpositive thinking. Mungkin masnya salah mobil.

Beres interview dan silaturahmi sama Kamtis di Maja FM, kami lanjut menuju Jombang, yang jaraknya kurang lebih 25 KM dari Mojokerto. Kami pun berangkat berbekal GPS dan ancer-ancer dari pihak radio. Tapi ternyata, perjuangan kami untuk bisa tiba Gita FM Jombang ini, tak semudah itu, saudara-saudara. Kami keblasuk-blasuk alias tersesat selama lebih dari satu jam. Alhasil, yang harusnya interview di jam 4 sore, harus molor karena sampai jam 5 lebih kami masih berusaha mencari jalan yang benar. Mungkin selain pakai GPS a.k.a Global Positioning System, kami juga harus sedia GPS yang lebih tradisional yaitu Gunakan Penduduk Sekitar.

Akhirnya, karena lokasinya nggak ketemu-ketemu, pihak radio memutuskan untuk menjemput kami di depan sebuah minimarket yang sangat ikonik dan sering menjadi sarana ancer-ancer alias patokan penunjuk arah di berbagai kota. Ternyata, lokasi radio Gita FM ini terletak tepat di belakang sebuah pondok pesantren yang bernama Tebu Ireng. Kami tidak menemui penjelasan kenapa pesantren ini dinamakan Tebu Ireng, mungkin biar gagah aja, soalnya kalau Tebu Jambon gitu kan malah jadi unyu. Di Pondok pesantren Tebu Ireng ini juga rupanya terdapat cukup banyak Kamtis yang loyal. Sering kami lihat, pada saat kami manggung di mana-mana, hampir selalu ada Kamtis yang membawa spanduk bertuliskan Kamtis Tebu Ireng.

Kami mendapat sambutan yang meriah sekali dari rombongan Kamtis yang jumlahnya banyak sekali, ditambah juga dengan penduduk sekitar yang terdiri dari adek-adek, dari yang masih kecil sampai yang udah bisa bikin gemes, dan juga ibu-ibu! Rupanya wajah tampan nan matang kami juga menjadi daya tarik tersendiri buat para remaja pada masanya ini. :)) Mereka memenuhi jalan di depan radio yang memang ukurannya tidak terlalu besar.

Yang unik, karena sebagian besar Kamtis yang datang berasal dari daerah pondok pesantren, outfit yang mereka gunakan juga berbeda. Kalau biasanya Kamtis itu dandan necis pakai celana panjang atau pendek, sepatu, topi dan kaos Kamtis atau official merchandise Endank Soekamti, tapi Kamtis yang memenuhi Gita FM ini mengenakan sarung, sandal dan peci, yang jadi persamaan adalah mereka tetep pake kaos beratribut Endank Soekamti.

Radio berikutnya, kami harus balik lagi ke Mojokerto, karena radio R FM memang lokasinya di sana. Kamtis yang datang juga semakin banyak dan siarannya juga dilengkapi fasilitas video streaming, jadi Kamtis yang nggak bisa merapat, tetep bisa melihat suasana siaran kami di R FM.

Tanggal 21 Januari 2015, perjalanan berlanjut menuju kota Malang. Kami tiba di kota apel ini sekitar pukul 2 dini hari dan langsung check in, tapi kali ini di hotel, bukan di pom bensin lagi. Paginya, Erix dan Ulog yang menyusul dari Jogja kembali bergabung dalam tim media tour #Kolaborasoe.

Radio pertama di kota Malang adalah Pro 2 RRI. Sampai di sana, kami dapet kejutan dari Kamtis Malang yang bisa dibilang cukup ekstrim. Mereka datang dengan membawa spanduk bertuliskan Hooligans Soekamti. Malang Kamtis Family. Lengkap dengan megaphone dan juga suar (flare) yang bikin suasana berasa lagi kayak di pertandingan sepakbola Indonesia. Soalnya kalau di luar negeri kayaknya nggak boleh pakai flare, deh. :)) Mereka menyerukan yel-yel mereka sambil menyalakan suar. Dramatis sekali, pemirsa.

Radio kedua di kota Malang adalah radio Kencana. Yang bulan lalu juga sempat kami kunjungi waktu kami manggung di Malang, dan kali ini balik lagi untuk promo #Kolaborasoe. Dilanjut dengan radio MFM dan yang terakhir adalah radio Elfara, kami tiba sekitar jam 5 sore dan Kamtis juga sudah banyak yang menyemut di lokasi radio.

Selesai jalan-jalan dari radio ke radio, malamnya kami melakukan screening film #Kolaborasoe Rockumentary di Sabdo Palon Cafe. Kegiatan tersebut dibantu oleh Jipenk, yang merupakan vokalis dari band Begundal Lowokwaru. Beliau yang mengkoordinasi acara screening di kota ini. Acara berlangsung kurang lebih selama 2 jam dan dibuka dengan cerita dari kami bertiga tentang perjalanan Endank Soekamti dari tahun 2001 sampai pada hari lahirnya album #Kolaborasoe yang kemudian dilanjut dengan pemutaran film #Kolaborasoe Rockumentary, yang tidak lain, menampilkan tentang behind the scene terciptanya album #Kolaborasoe. Menyenangkan sekali melihat kursi-kursi yang tersedia di Sabdo Palon Cafe tersebut terisi penuh oleh Kamtis dan juga kreator-kreator asal Malang. Setelah pemutaran film, kami mengadakan sesi diskusi dan juga tanya jawab. Melibatkan kreator-kreator asal Malang juga. Antusiasme pengunjung malam itu bikin kami tambah bahagia. Ditutup dengan perform menggunakan gadget dari kami.

Selesai acara, kami lanjut makan-makan dan juga foto bareng. Waktu mau menuju area parkir di seberang jalan biar fotonya bisa ramean, lagi-lagi kami dikejutkan oleh aksi dari Kamtis Malang. Seakan belum puas bikin kami speechless siang tadi, kali ini mereka datang dengan membentangkan spanduk bertuliskan Soekamti Sampai Mati sepanjang kira-kira 15 meter di pinggir jalan yang cukup ramai. Lengkap dengan flare, sambil menyanyikan mars Kamtis dengan lantang. Kaget, bahagia, terharu, semua rasanya jadi satu.

Sepertinya cukup tiga kota dulu yang kami ceritakan untuk episode kedua ini. Jangan lupa baca kelanjutan cerita media tour #Kolaborasoe kota-kota lain di episode selanjutnya B)

to be continued…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *